ISOLASI BAKTERI DARI SUATU CAMPURAN

Desember 20th, 2013

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR

 

Nama/NRP      : Lina Fadliatul Jannah/A34110012    Asisten Praktikum:

Kelompok       : 3 (Tiga)                                              1. Ulfah Nopiyanti      (G34090035)

Hari, tanggal   : Rabu, 16 Oktober 2013                    2. Juniza Firdha S.      (G84100045)

 

ISOLASI BAKTERI DARI SUATU CAMPURAN

 

TUJUAN

Mempelajaricara-cara isolasi bakteri dari suatu campuran dengan teknik cawan gores dan cawan tuang.

 

HASIL PENGAMATAN

Tabel 1 Metode Cawan Gores dan Cwan Tuang

Ciri Koloni

Mikroorganisme

Escherichia coli

Microsossus luteus

Warna

Putih

Kuning

Elevasi

Timbul

Cembung

Tepian

Licin

Licin

Bentuk

Bundar

Bundar

 

Metode Cawan Gores

p4

Gambar 1 Cawan Gores

Metode Cawan Tuang

p1

Gambar 2 Cawan Tuang

p2

Gambar 3 Cawan Tuang

p3

Gambar 4 Cawan Tuang

PEMBAHASAN

Isolasi bakteri merupakan suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungan sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu dengan cara goresan (streak plate), cara tuang (pour plate), cara sebar (spread palte), dan mikro manipulator (Buckle 1997).

Persyaratan utama bagi isolasi dan kultivasi fage adalah harus adanya kondisi optimum untuk pertumbuhan organisme inangnya. Sumber bakteriofage yang paling baik dan paling utama adalah habitat inang. Sebagai contoh fage Escherichia coli yang dijumpai di dalam pencernaan dapat diisolasi dari limbah atau pupuk kandang. Hal ini dilakukan dengan sentrifugasi atau filtrasi bahan sumbernya dan penambahan kloroform untuk menumbuhkan sel-sel bakterinya (Krisno 2011).

Metode cawan gores, prinsip metode ini yaitu mendapatkan koloni yang benar-benar terpisah dari koloni yang lain, sehingga mempermudah proses isolasi. Cara ini dilakukan dengan membagi 3-4 bagian pada cawan petri. Ose steril yang telah disiapkan diletakkan pada sumber isolate, kemudian menggoreskan ose tersebut pada cawan yang telah dibagi menjadi 3-4 sekat. Ose disterilkan lagi dengan api Bunsen. Setelah kering, ose tersebutdigunakan untuk menggores goresan sebelumnya pada sisi cawan kedua.

Metode cawan sebar adalah suatu teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara menuangkan stok kultur bakteri atau menghapuskannya di atas media agar yang telah memadat. Sedangkan metode cawan tuang adalah dengan mencampurkan kultur ketika media masih cair. Kelebihan teknik ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada bagian permukaan agar.

Metode dilusi memiliki tujuan untuk melarutkan atau melepaskan mikroba dari substratnya ke dalam air sehingga lebih mudah penanganannya. Sampel yang telah diambil kemudian disuspensikan dalam aquades steril. Teknik isolasi sangat penting dalam analisis mikrobiologi, karena hamper semua metode penelitian dan penghitungan jumlah sel mikroba menggunkana teknik ini (Krisno 2011).

Bakteri yang didapatkan dari percobaan adalah Micrococcus luteus, dan Escherichia coli. Genus Micrococcus memiliki ciri sel berbentuk bulat, berukuran 0.5-2 µm, sel tersusun tunggal, tetrad, bergerombol, reaksi Gram positif, jarang yang motil, dan tidak membentuk endospore, koloni biasanya berwarna kuning atau merah, hidup secara aerob, katalase positif, tidak menghasilkan asam dan karbohidrat, atau sedikit menghasilkan asam. Suhu optimum pertumbuhan 27-30oC, biasanya terdapat di kulit mamalia, tanah, air, dan produk makanan (Holt et al 1994; Buchanan & Gibbons 1974; Thoyib 2007).

Escherichia coli  merupakan bakteri berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 µm dan diameter 0.5 µm. bakteri ini umunya hidup pada rentang suhu 20-40oC, namun optimum pada suhu 37oC. E. coli menjadi model untuk aplikasi bakteri lainnya, selain itu juga merupakan media cloning yang paling sering dipakai. Teknik recombinant DNA tidak aka nada tanpa bantuan bakteri lain (Avice 2007).

Hasil pengamatan dari dua metode yang digunakan memberikan hasil yang berbeda. Gambar 1 metode cawan gores menunjukkan bakteri yang tumbuh pada bagian yang telah dibagi menjadi empat bagian dengan jumlah yang berbeda. Bakteri lebih banyak tumbuh pada kolom satu, dan semakin berkurang pada kolom-kolom berikutnya. Hasil goresan bakteri pada cawan didapatkan dua jenis spesies bakteri yaitu Escherichia coli dan Micrococcus luteus. E. coli memiliki ciri koloni dengan warna putih, elevasi timbul, tepian licin dan bentuk bundar. M. luteus memiliki ciri koloni dengan warna kuningm elevasi cembung, tepian licin, dan bentuk bundar.

Metode kedua yang digunakan adalah metode cawan tuang. Biakan bakteri yang sudah disiapkan dalam keadaan baru dikeluarkan dari autoklaf langsung dituangkan ke dalam cawan petri secara apestik. Biakan bakteri harus segera dituang sebelum mengeras dalam tabung reaksi, karena jika sudah mengeras tidak akan bisa dituang. Metode ini dilakukan tiga kali dengan tiga cawan yang berbeda dan hasil yang berbeda pula.

Cawan pertama menunjukkan pertumbuhan bakteri yang sempurna pada permukaan cawan. Bakteri yang tumbuh adalah E. coli. Cawan kedua tidak ditumbuhi bakteri, yang terlihat hanyalah medium agar yang memadat pada permukaan cawan. Cawan ketiga, medium agar yang terbentuk tidak sempurna dan tidak ditumbuhi bakteri. Ketidaksempurnaan ini disebabkan karena medium sudah mengeras terlebih dahulu sebelum dituang ke dalam cwan petri, sehingga pada saat dituang ke dalam cawan petri terdapat bagian-bagian yang sudah mengeras dan menyebabkan agar tidak tumbuh merata di permukaan cawan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan setelah menggunakan cawan adalah, seharusnya cawan dibalik setelah medium mengeras, hal ini bertujuan agar tidak ada udara masuk dan tidak terjadi pengembunan di bagian tutup cawan. Apabila tutup cawan berembun dan cawan tidak dibalik, tetesan embun itu akan jatuh ke permukaann agar, hal ini dapat menyebabkan terjadi kontaminasi.

 

SIMPULAN

Isolasi bakteri dari suatu campuran dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya yang biasanya dipakai adalah metode cawan gores dan cawan tuang. Metode cawan gores dari campuran biakan bakteri M. luteus dan E. coli dapat terlihat pada cawan yang berisi medium agar yang dibagi menjadi empat bagian sekat, dan metode cawan tuang terdapat pada tiga cawan yang berbeda, dan dari ketiganya menunjukkan hasil yang berbeda. Metode cawan tuang ini berbeda dengan cawan gotes. Metode cawan tuang adalah dengan cara menuangkan medium caor yang ada di adlam tabung reaksi ke dalam cawan peti, sedangkan metode cawan gotes adalah dengan cara menggoreskan bakteri dengan ose di atas permukaan media di dalam cawan petri sesuai pembagian sekat yang telah dibuat sebelumnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Avice JC. 2007. The Genetic Gods. Jakarta (ID): Serambi Ilmu Semesta.

Buchanan RE & Gibbons NE. 1974. Bergey’s Of Determinative Bacteriology 8th Editions. Battimore: The Williams and Wikins Company.

Buckle. 1997. Food Science. Australian: Vice-Chacellons Comite. PP.  120-130.

Holt JG.et al. 1994. Bergey’s Of Determinative Bacteriology 8th Editions. Battimore: The Williams and Wikins Company.

Krisno A. 2011. Teknik membuat biakan murni. [Terhubung berkala]. http://www.scribd.com/doc/69718056/TEKNIK-MEMBUAT-BIAKAN. Diakses pada 13 Oktober 2013

Thoyib H. et al. 2007. Seleksi dan identifikasi bakteri alkalifilik penghasil xilanase dari tanah bukit krakitan bayat, klaten. Bioteknologi 4(1): 6-12.

KUANTITAS MIKROBE: HITUNGAN MIKROSKOPIS LANGSUNG

Desember 20th, 2013

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR

 

Nama                : Lina Fadliatul Jannah             Asisten Praktikum:

NRP/Klp.         : A34110012/3 (Tiga)               1. Ulfah Nopiyanti      (G34090035)

Hari, tanggal   : Rabu, 16 Oktober 2013         2. Juniza Firdha S.      (G84100045)

 

KUANTITAS MIKROBE: HITUNGAN MIKROSKOPIS LANGSUNG

 

TUJUAN

Mengenal konstruksi hemasitometer dan menggunakannya untuk menghitung sel khamir dengan bantuan mikroskop.

 

HASIL PENGAMATAN

KOLONI

JUMLAH

Kiri Atas

13

Kiri Bawah

7

Tengah

5

Kanan Atas

3

Kanan Bawah

4

Jumlah

32

Contoh Perhitungan:

∑ Sel kotak kecil         = 32/80 = 0,4 Sel/mm3

∑ Sel/mm3                   = 0,4/(1/400 × 0,1)

= 1.600 Sel/mm3

è 1.600 × 1.000         = 1.600.000 Sel

= 16 × 105 Sel

 

PEMBAHASAN

Pengamatan bakteri dapat dilakukan secara individual, satu per satu, maupun secara kelompok dalam bentuk koloni. Apabila bakteri yang ditumbuhkan di dalam medium yang tidak cair, maka akan terjadi suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk setiap spesies, dan bentuk tersebut merupakan ciri khas bagi setiap spesies tertentu.

Perhitungan dan pengukuran jumlah jasad renik di dalam suatu suspense atau bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara tersebut dibedakan atas beberapa kelompok, yaitu perhitungan jumlah sel, terdiri atas perhitungan mikroskopik, hitungan cawan, MPN (Most Probable Number); perhitungan massa sel secara langsung terdiri atas volumetric, gravimetric, dan kekeruhan (turbidimetrik); perhitungan massa sel secara tidak langsung terdiri atas analisis komponen sel, analisis produk katabolisme, dan analisis konsumsi nutrient (Fardiaz 1992).

Metodw yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode hitung mikroskopis langsug. Sampel ditaruh di ruang hitung (hemasitometer) dan jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan menggunakan bantuan mikroskop. Keuntungan metode ini adalah pengerjaannya cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan. Kelemahannya adalah tidak dapat membedakan sel yang hidup dan yang mati, sulit menghitung sel dengan unuran sangat kecil, dan tidak dapat menghitung secara individu karena cenderung sel yang tampak adalah berupa kumpulan sel atau sel bergerombol (Hadioetomo 1993).

Menurut Hansen (2010), hemasitimeter adalah ruang kaca atau gelas yang dirancang sedemikian rupa dengan sisi-sisi yang tingginya memiliki penutup kecil tembus cahaya yang tepat 0.1 mm di atas lantai ruang. Untuk menghitung ruang yang di sketsa yaitu pada area permukaan 9 mm2 . kaca slide (hemasitometer) yang terdiri atas kotak-kotak kecil dengan ukuran tertentu, luas tertentu, dan bentuk sedemikian rupa sehingga suatu larutan tipis yang diketahui tebalnya dapat diletakkan di Antara kaca slide ini dengan gelas penutupnya.

Hasil pengamatan menunjukkan jumlah sel khamir yang teramati pada lima kotak sampel berbeda-beda. Kotak kecil pada bagian ujung kiri atas terdapat 17 sel khamir, ujung kiri bawah 7 sel khamir, bagian tengah 5 sel khamir, ujung kanan atas 3 sel khamir, dan ujung kanan bawah 4 sel khamir. Jumlah sel pada seluruh kotak kecil yang diamati adalah 32 sel khamir, dengan jumlah 0.4 sel/mm atau 1600 sel/mm3. Sehingga pada keseluruhan kotak kecil (25 kotak) yang teramati terdapat total keseluruhan sebanyak 16 × 105 sel.

Jumlah yang sangat banyak itu hanya untuk luasan 25 kotak kecil saja. Ada beberapa kekurangan dalam pengamatan jumlah sel khamir dengan hemasitometer ini, seperti yang dijelaskan oleh Hadioetomo. Kesulitan lain yang terjadi pada saat pengamatan sel khamir adalah ada beberapa sel yang ukurannya sangat kecil apabila dibandingkan dengan ukuran sel yang lain dalam satu kotakan berdempetan dengan sel khamir yang ada di dekatnya, sehingga menyulitkan pada saat perhitungan, serta sel yang sebagian badannya berada dalam kotak pengamatan namun bagian lainnya berada di luar.

Mikropskop yang digunakan untuk pengamatan jumlah sel khamir ini adalah mikroskop compound dengan perbesaran 40 × 10. Penampakkan sel yang terlihat pada mikroskop semuanya sama, tidak dapat dibedakan Antara sel yang hidup dengan sel yang sudah mati, karena tidak terlihat motilitas sel khamir pada hemasitometer.

 

SIMPULAN

Penghitungan jumlah sel (khamir) dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan  penghitungan mikroskopis langsung dengan bantuan hemasitometer dan mikroskop. Hemasitoeter mampu membaca jumlah sel yang akan diamati dengan memasukkannya pada celah berbentuk huruf V, kemudian cairan khamir yang dituang pada celah akan menyebar dan mengenai kaca bening bidang pengamatan. Sel khamir akan terlihat dengan menggunkan bantuan mikroskop compound.

 

DAFTAR PUSTAKA

Fardiaz S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama.

Hadioetomo RS. Dkk. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama.

Hansen PJ. 2010. Hemacytometer. [Terhubung berkala]. http://www.animal.ufl.edu. Diakses pada 20 Oktober 2013

PENGENALAN DAN PEMANFAATAN MUSUH ALAMI

Desember 17th, 2013

PENGERTIAN MUSUH ALAMI SERANGGA HAMA

Musuh alami adalah organisme yang ditemukan di alam yang dapat membunuh serangga sekaligus, melemahkan serangga, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada serangga, dan mengurangi fase reproduktif dari serangga. Musuh alam biasanya mengurangi jumlah populasi serangga, inang atau pemangsa, dengan memakan individu serangga.

Untuk beberapa spesies, musuh alami merupakan kekuatan utama yang mengatur dinamika populasi serangga, sehingga penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana musuh alami dapat mempengaruhi populasi serangga untuk mengestimasi pengaruhnya. Untuk menjelaskan kepadatan populasi serangga dan memprediksi terjadinya outbreaks.

Dalam pest management program, kita perlu memahami musuh alami untuk memanipulasinya di lapangan sebagai pengendali hama.

Pengendalian hayati (biological control) adalah taktik pengendalian hama yang melibatkan manipulasi musuh alami hama yang menguntungkan untuk memperoleh pengurangan jumlah populasi dan status hama di lapangan.

Biological control berbeda dengan natural control, natural control dalam prakteknya melibatkan agen lain selain musuh alami, misalnya cuaca atau makanan. Beberapa author mengungkapkan bahwa biological control dalam arti luas termasuk semua metode yang melibatkan organism hidup sebagai bagian dari taktik pengendalian, seperti penggunaan inang yang resisten, pelepasan serangga steril, atau manipulasi genetic.

Organisme dalam aktivitas hidupnya selalu berinteraksi dengan organisme lainnya dalam suatu keterkaitan dan ketergantungan yang kompleks. Interaksi antar organisme tersebut dapat bersifat antagonistik, kompetitif atau simbiotik. Sifat antagonistik ini dapat dilihat pada musuh alami yang merupakan agen hayati dalam pengendalian hama. Musuh alami memiliki peranan dalam pengaturan dan pengendalian populasi hama, sebagai faktor yang bekerjanya tergantung kepada kepadatan, dalam kisaran tertentu musuh alami dapat mempertahankan populasi hama di sekitar aras keseimbangan umum.

Setiap spesies serangga hama sebagai bagian dari komplekskomunitas dapat diserang oleh serangga lain atau oleh patogen penyebab penyakit pada serangga. Ditinjau dari segi fungsinya musuh alami dapat dikelompokan menjadi predator, parasitoid dan patogen.


Kepik predator dari ulat

Patogen Beauveria bassiana membunuh serangga

Lalat parasitoid ini mendekati ulat untuk meletakkan telurnya

Musuh Alami adalah Suatu mahluk hidup (organisme > Predator, Parasitoid dan Patogen) yang dapat mengendalikan hama penyakit dan gulma (OPT)

Predator / Pemangsa :Adalah binatang ( serangga, laba-laba dan binatang lain ) yang memburu, memakan atau menghisap cairan tubuh binatang lain sehingga menyebabkan kematian. Kadang-kadang disebut “ predator” Pemangsa berguna karena memakan hama tanaman. Semua laba-laba dan capung merupakan contoh pemangsa.
Parasitoid : Adalah serangga yang hidup sebagai parasit di dalam atau pada tubuh serangga lain ( serangga inang ), dan membunuhnya secara pelan-pelan. Parasitoid berguna karena membunuh serangga hama. Ada beberapa jenis tawon (tabuhan) kecil sebagai parasitoid serangga hama . Parasitoid yang aktif adalah stadia larva sedangkan imago hidup bebas bukan sebagai parasit dan hidupnya dari nectar, embun madu, air dll.
Patogen : Adalah Mikroorganisme yang dapat memnyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit terhadap OPT. Secara spesifik mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga disebut entomopathogen, patogen berguna karena mematikan banyak jenis serangga hama tanaman, seperti jamur, bakteri dan virus. Patogen yang bisa mengendalikan hama dan penyakit disebut sebagai Pestisida Mikroba.
AGENS ANTAGONIS :
Adalah Mikroorganisme yang mengintervensi/menghambat pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan
PENGENDALIAN ALAMI (Natural Control) :
Adalah Proses pengendalian OPT yang berjalan sendiri tanpa ada kesengajaay yang dilakukan oleh manusia
PENGENDALIAN HAYATI (Biological Control) :
Merupakan taktik pengelolaan hama secara sengaja dengan memanfaatkan atau memanipulasi musuh alami/agens hayati untuk menekan atau mengendalikan OPT
CARA KERJA MUSUH ALAMI (AGENS HAYATI)
Predator :
> Memakan mangsanya secara langsung

Parasitoid :
> Meletakan telur pada tubuh hewan sasaran, kemudian setelah menetas larvanya menghisap cairan tubuh hewan sasaran tersebut hingga mati

Patogen :
> Jamur tersebut masuk kedalam tubuh serangga melalui kulit diantara ruas-ruas tubuh
> Mekanisme penetrasinya dimulai dengan pertumbuhan spora pada kutikala
> Didalam tubuh serangga hifa berkembang dan selanjutnya memasuki pembuluh darah, melalui beberapa proses lebih lanjut di dalam tubuh menyebabkan kematian serangga

Sejarah Pengendalian secara Biologi

Biological control merupakan salah satu cara pengendalian hama yang tertua. Pada abad empat sudah digunakan semut untuk menekan populasi hama pada jeruk di China.

Kesuksesan yang cukup fenomenal dari aplikasi biological control ini adalah introduksi serangga predator yaitu Rodolia cardinalis (kumbang vedalia) untuk mengendalikan Icerya purcasi ( hama pada jeruk )

Kemudian juga ditemukan lalat parasit. Kemudian berkembang pada penggunaan serangga untuk mengendaliakan beberapa gulma pada pertanaman kaktus berduri, di australi dan Klamath di bagian barat amerika serikat.

602 percobaan pengendalian biologi klasik ditemukan di seluruh dunia. Rata – rata kesuskesan mencapai 16 persen, dan partial success (mengurangi dan tidak menghilangkan permasalahan hama) adalah sebanyak 58 %. Pada survey ini, kesuksesan pengendalian hama didapati pada ordo homoptera (30%), hemiptera (15%), lepidoptera (6%) dan coleopteran (4%).

Teori Pengendalian Biologi

Teori biological control pada dasarnya tidak berbeda dengan prinsip – prinsip ekologi dan dinamika populasi. Seperti yang didiskusikan sebelumnya, banyak factor lingkungan yang mengatur kepadatan populasi, juga batas – batas fluktuasi serangga. Hal ini termasuk density – independent dan perfectly and imperfectly density dependent factor. ]

Pada konteks pengendalian biologi, telah terdapat pengaturan populasi hama dan hubungan serangga dengan musuh alaminya bersifat imperfectly density dependent factor (ada factor – factor yang tidak bebas, kadang – kadang membatasi jumlah individu dalam populasi contohnya parasitoid/predator mempunya luasan tertentu untuk mengatur populasi mangsa). Tujuan dari biological control : salah satunya adalah untuk mengintroduksi musuh alami atau memanipulasi jumlah musuh alami yang ada yang sehingga menyebabkan terjadinya fluktuasi kepadatan hama sampai dibawa ambang luka ekonomi,

Goal dari program biological control ini adalah terciptanya suatu self sustaining sytem (system pertahanan diri). Sebagai contoh, musuh alami yang diintroduksikan ke dalam suatu area dengan harapan akan stabil pada area tersebut, Karena jumlah hama berfluktuasi dibawah ambang luka ekonomi (EIL), dan dilanjutkan pada penurunan kepadatan populasi tanpa adanya manipulasi lebih jauh. Tentu saja, dengan menerapkan system ini tidak mengeliminasi keseluruhan jumlah populasi hama yang ada di lapangan karena jika menghabiskan semua populasi hama, makan akan memutus ketersediaan makanan bagi musuh alami.

Mekanisme dari self sustaining system, secara teori, berdasarkan pada ketersediaan makanan yang ada dan kemamampuan reproduksi Dari musuh alami. Dalam hal ini, peningkatan populasi hama yang ada di area berarti ketersediaan makanan bagi musuh alami juga semakin banyak,sehingga populasi musuh alami juga mengalami peningkatan (Ekspansi). Ketika ekpansi terjadi, peningkatan proporsi dari populasi hama akan mengalami gangguan, sehingga mengurangi juga ketersediaan pakan bagi musuh alami. Kekurangan pakan ini akan berakibat pada penurunan tingkat reproduksi, menyebabkan penurunan populasi musuh alami. Ketika jumlah musuh alami menurun, maka tekanan terhadap populasi hama semakin menurun, sehingga jumlah hama di lapangan akan meningkat, ketika jumlah hama di lapangan meningkat, makan populasi musuh alami juga akan meningkat. (not so imperfectly dependable or smoothly operating)

Respon yang terjadi antara hama dan musuh alami, adalah respon numeric, dimana peningkatan jumlah populasi hama di lapangan juga meningkatkan jumlah populasi musuh alami di lapangan/

Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan atau memangsa organisme lain. Predator bersifat polifag memangsa berbagai jenis mangsa dan memiliki daya cari (searching capacity) yang tinggi. Hampir semua ordo serangga memiliki jenis yang menjadi predator misalnya Coleoptera, Neuroptera, Hymenoptera, Diptera, dan hemiptera.

Parasitoid merupakan serangga yang memarasit serangga lain. Parasitoid debedakan mejadi ektoparasitoid (berkembang dari luar tubuh inang) dan endoparasitoid (berkembang di dalam tubuh inang). Apabila lebih dari satu individu parasitoid berkembang dalam satu inang maka disebut parasitoid gregarius. Ordo serangga yang anggotanya menjadi parasitoid meliputi Coleoptera, Diptera, Hymenoptera, Lepidoptera, Neuroptera dan Strepsitera.

Serangga dapat diserang pula oleh patogen berupa jamur, bakteri, virus, protozoa, atau nematoda yang dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan kematian dan menurunkan populasi hama. Beberapa patogen serangga yang terkenal misalnya jamur Materhizium anisopliae, Nomuraea rileyi, Entomopthora sp., Beauveria basiana, bakteri Bacillus thuringiensis, B. popilliae, nematoda Neoaplectana carpocapsae, Mermis sp., Heterorhabditis sp.

Musuh Alami adalah Suatu mahluk hidup (organisme > Predator, Parasitoid dan Patogen) yang dapat mengendalikan hama, penyakit dan gulma (OPT)

Predator / Pemangsa :
Adalah binatang ( serangga, laba-laba dan binatang lain ) yang memburu, memakan atau menghisap cairan tubuh binatang lain sehingga menyebabkan kematian. Kadang-kadang disebut “ predator” Pemangsa berguna karena memakan hama tanaman. Semua laba-laba dan capung merupakan contoh pemangsa.

Parasitoid :
Adalah serangga yang hidup sebagai parasit di dalam atau pada tubuh serangga lain ( serangga inang ), dan membunuhnya secara pelan-pelan. Parasitoid berguna karena membunuh serangga hama. Ada beberapa jenis tawon (tabuhan) kecil sebagai parasitoid serangga hama . Parasitoid yang aktif adalah stadia larva sedangkan imago hidup bebas bukan sebagai parasit dan hidupnya dari nectar, embun madu, air dll.

Patogen :
Adalah Mikroorganisme yang dapat memnyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit terhadap OPT. Secara spesifik mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga disebut entomopathogen, patogen berguna karena mematikan banyak jenis serangga hama tanaman, seperti jamur, bakteri dan virus. Patogen yang bisa mengendalikan hama dan penyakit disebut sebagai Pestisida Mikroba.

AGENS ANTAGONIS :
Adalah Mikroorganisme yang mengintervensi/menghambat pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan

PENGENDALIAN ALAMI (Natural Control) :
Adalah Proses pengendalian OPT yang berjalan sendiri tanpa ada kesengajaan yang dilakukan oleh manusia

PENGENDALIAN HAYATI (Biological Control) :
Merupakan taktik pengelolaan hama secara sengaja dengan memanfaatkan atau memanipulasi musuh alami/agens hayati untuk menekan atau mengendalikan OPT ( Organisme Pengganggu Tanaman )

Sumber: http://www.htysite.com/hama%20musuh%20alami%20pengertian.htm

PERAN KUMBANG RAKUS Curinus coeruleus Mulsant SEBAGAI MUSUH ALAMI

Desember 17th, 2013

Curinus coeruleus Mulsant merupakan kumbang yang didatangkan langsung dari Hawaii untuk menekan populasi hama kutu loncat Heteropsylla cubanapada tahun 1986 yang sangat ganas. Pada saat itu hama ini populer di Indonesia, karena merusak sebagian besar tanaman lamtoro yang ditanam sebagai penaung pada perkebunan kopi dan coklat. Tanaman lamtoro merupakan salah satu komponen yang sering digunakan dalam wanatani antara lain sebagai penaung, tanaman sela dan tanaman penghijauan. Tanaman lamtoro bagi petani kopi sangat bermanfaat, karena tanaman kopi peka terhadap sinar matahari langsung terutama di daerah yang mempunyai musim kering yang tegas. Selain itu, tanaman naungan berfungsi sebagai pencegah erosi, menahan angin, pemulih kesuburan tanah kritis, menjaga kelembaban tanah (ketersediaan air tanah) dan bisa juga sebagai pakan ternak.

Tanaman lamtoro yang gundul karena habis dimakan kutu loncat otomatis akan menurunkan produksi dan ukuran biji kopi. Oleh karena itu, untuk menjaga ekosistem yang seimbang akibat serangan kutu yang mengganas maka didatangkan C. coeruleus sebagai musuh alaminya.

Sumber: http://ditjenbun.deptan.go.id/bbpptpsurabaya/berita-345-peran-kumbang-rakus-curinus-coeruleus-mulsant-sebagai-musuh-alami-.html

Laporan Pengantar Nematologi Tumbuhan

Januari 19th, 2013

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR NEMATOLOGI TUMBUHAN

Ekstraksi Nematoda pada Tanah dan Akar Tanaman Pisang

Kelompok 2

  1. Lina Fadliatul Jannah                  (A34110012)
  2. Siti Rizkah Sagala                          (A34110017)
  3. Fitri Ernawati                                 (A34110022)
  4. Fita Vindia Wati                             (A34110030)
  5. Suharman                                         (A34110035)

 

 

Dosen :

Dr. Ir. Supramana, M.Si.

Asisten :

  1. Fitrah Sumacipta
  2. Maeniwati Rachmah

 

 

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Nematoda berasal dari bahasa Yunani yang berarti benang, berbentuk memanjang seperti tabung, kadang-kadang sebagai kumparan yang dapat bergerak seperti ular. Mereka hidup di dalam air, baik air laut maupun air tawar, di dalam film air, di dalam tanah, di dalam jaringan jasad hidup berair. Filum nematoda merupakan kelompok besar kedua setelah serangga apabila didasarkan atas keanekaragaman jenisnya. Nematoda ini ada yang hidup bebas dan ada yang sebagai parasit. Nematoda parasitik dapat hidup pada semua bagian tumbuhan termasuk pada kuncup bunga, daun, batang dan akar. Mereka mempunyai kebiasan makan yang sangat bervariasi (Elysa 2010).

Nematoda berbentuk seperti cacing kecil. Panjangnya sekitar 200-1.000 mikron( 1.000mikron = 1 mm). Namun, ada beberapa yang panjangnya sekitar 1 cm. Nematoda biasa hidup di dalam atau di atas tanah.Umumnya nematoda yang hidup di atas tanah sering terdapat di dalam jaringan tanaman atau di antara daun-daun yang melipat, di tunas daun, di dalam buah, di batang, atau di bagian tanaman lainnya. Nematoda juga ada yang hidup di dalam tanaman (endoparasit) dan ada juga yang di luar tanaman (ektoparasit) (Epri 2008).

Jenis nematoda yang saprofit sangat menguntungkan. Karena mempercepat proses tanaman yang telah mati menjad itanah. Ada juga nematoda yang menjadi parasit, khususnya parasit pada tanaman (Bridge etal.,1995). Nematoda parasit tanaman dapat menyebabkan kerusakan tanaman, sehingga mengakibatkan penurunan produksi, yang akhirnya merugikan petani (Epri 2008). Apabila dipilahkan berdasar habitatnya, nematoda terdiri atas nematoda parasit tanaman, lebih kurang 10% dari total nematoda di dunia. Populasi nematoda parasit tanaman dan hidup bebas dalam tanah melimpah, yakni dalam 1 meter kubik tanah subur setebal 30 cm terdapat lebih kurang 50 juta nematoda.

(Mulyadi 2009).

Umumnya untuk membedakan antara nematoda yang memiliki stilet atau tidak biasanya dilihat dari keaktifannya. Nematoda yang aktif adalah nematoda nonparasit yang tidak berstilet. Nematoda non parasit tersebut tidak membutuhkan stilet untuk mengambil nutrisi dari tanaman lain karena alat mulutnya telah memiliki fungsi yang cukup baik dalam memenuhi nutrisinya. Berbeda dengan nematoda berstilet, nematoda tersebut adalah nematoda yang pasif. Stilet yang dimilikinya membantu dalam memenuhi nutrisinya. Namun kita harus jeli untuk membedakan antara yang aktif dan yang pasif. Karena bisa jadi nematoda tersebut dalam keadaan rehat.

Metode yang digunakan dalam melakukan ekstraksi adalah metode corong Baermann dan metode ekstrasi dengan pengkabutan (metode Mist Chamber). Metode  corong Baermann digunakan untuk mengekstrasi nematoda dari tanah sedangkan metode ekstrasi dengan pengkabutan (metode Mist Chamber) digunakan untuk mengekstrasi akar tanaman, baik itu tanaman tahunan maupun tanaman setahun. Prinsip kerja kedua metode ini sama yaitu gerakan aktif dari nematoda dan gaya gravitasi bumi yang menyebabkan nematoda bergerak kebawah (Elysa 2010).

 

 

Tujuan

            Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui kelimpahan nematoda parasit dan nematoda non parasit pada tanah dan akar tanaman pisang.

 

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan untuk praktikum kali ini adalah air untuk mencuci akar, saringan halus ukuran 400 mesh, saringan halus ukuran 500 mesh, akar tanaman pisang, tanah yang diambil dari kedalaman 20 cm sekitar tanaman pisang, gelas plastic untuk mensuspensi nematoda, corong, skrop, bor tanah berbentuk huruf T, kantong plastic transparan, Koran, label, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, lampu 220 V / 50 Hz, gelas objek (preparat), kaca penutup, pipet, cawan siraks, dan jarum bertangkai untuk memancing nematoda .

 

Metode

Metode yang digunakan adalah metode corong Baermann dan metode Mist Chamber. Metode corong Baermann digunakan untuk mengekstraksi nematoda dari tanah, sedangkan metode Mist Chamber digunakan untuk mengekstrasi akar tanaman. Tujuan dari ekstraksi itu sendiri adalah untuk memisahkan nematoda dari jaringan tanaman atau dari gumpalan tanah. Nematoda didalam tanah harus dipisahkan dari pasir, batu-batuan, lemping serta dari kotoran bahan organik. Cara kerja dari kedua metode ini sama yaitu gerakan aktif dari nematode dan gaya gravitasi bumi yang menyebabkan nematoda bergerak kebawah.

Langkah awal pada pengambilan sampel untuk ekstrasi tanah dan akar sama yaitu dengan mengambil tanah disekitar akar tanaman pisang yang terkena topling over / penyakit busuk akar yang umumnya menimpa tanaman pisang dan tebu.  Sampel yang diambil berasal dari kedalaman 5-20 cm dari permukaan tanah menggunakan alat bantu skrop dan bor tanah yang berbentuk seperti huruf T. Tanah yang didapat di letakkan didalam plastik dengan menghindari terkena langsung cahaya matahari dan tekanan agar nematoda tidak mati.

Tanah yang didapat diletakkan di atas kertas koran dan dihaluskan pelan-pelan lalu diletakkan di atas kertas tissue pada wadah saringan. Wadah saringan kemudian diletakkan pada gelas plastik berisi air. Air ini harus selalu menyentuh sampel tanah. Nematoda kemudian akan bergerak kebawah dan terkumpul di gelas plastik. Tanah ini didiamkan selama satu minggu dan dijaga agar air tidak habis.

Sampel akar yang telah diambil kemudian dicuci untuk menghilangkan tanah yang melekat pada akar. Akar tersebut kemudian dipotong dengan ukuran ±1 cm. Akar diletakkan di atas wadah saringan yang diletakkan di atas corong berpipa. Corong berpipa kemudian didudukkan di atas gelas plastik. Alat ekstraksi kemudian dimasukkan kedalam ruang pengkabutan selama satu minggu (metode Mist Chamber).

Setelah satu minggu, gelas plastik yang berisi air ekstrasi nematoda akar dan tanah dituang kesaringan halus ukuran 400 mesh dengan sudut ±300. Saat melakukan penyaringan, saringan harus selalu basah atau digenangi oleh air agar nematoda tidak mati. Nematoda disaring dan setelah itu hasil ekstrasi tersebut kemudian dituang ke tabung koleksi sambil disemprotkan air dengan tekanan yang kecil agar tidak ada nematoda yang terperangkap di saringan. Hasil ekstrasi nematoda kemudian dituang ke cawan sirakus.

Langkah selanjutnya adalah memipet hasil ekstrasi ke cawan sirakus dan menghitung jumlah nematoda di bawah mikroskop stereo. Langkah ini dilakukan sampai air dalam tabung koleksi habis diteliti (dihitung nematodanya). Setelah menghitung jumlah nematodanya, kemudian dipancing dengan jarum pengait dan diletakkan di gelas objek yang berisi air. Gelas objek kemudian ditutup dengan gelas penutup dan diletakkan di mikroskop compound (mikroskop cahaya) untuk mengamati ciri-ciri morfologi nematoda yang diperoleh.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan

Tabel 1. Jumlah Nematoda hasil ekstraksi pada tanah dan akar

Kelompok

Bagian yang diambil

Jumlah Nematoda

Total

Stilet

Non Stilet

1

Tanah

3

5

8

Akar

2

-

2

2

Tanah

2

-

2

Akar

13

2

15

3

Tanah

3

-

3

Akar

6

-

6

4

Tanah

-

-

-

Akar

5

9

14

5

Tanah

-

-

-

Akar

4

-

4

6

Tanah

-

5

5

Akar

8

2

10

Jumlah Nematoda dalam Tanah

18

Jumlah Nematoda dalam Akar

51

Jumlah Semua Nematoda

69

 

 

Pembahasan

            Percobaan yang kami lakukan dengan menggunakan metode corong Baermann dan metode Mist Chamber ditemukan nematoda sebanyak 15 ekor yaitu 2 ekor nematoda parasit (berstilet) pada tanah dan 13 ekor nematoda parasit (bersetilet) serta 2 ekor nematoda non parasit (tidak berstilet) pada akar.

Jika dibandingkan dengan kelompok lain, kelompok kami yang memperoleh nematoda yang paling banyak, namun pada ekstrasi tanah kami hanya menemukan 2 ekor nematoda parasit saja sedangkan dikelompok lain ada yang menemukan non parasit juga. Bahkan ada juga kelompok yang tidak menemukan nematoda sama sekali dalam ekstrasi tanah. Kondisi ini disebabkan karena pada saat pengambilan ekstrasi tanah kelompok kami mengambil tanah yang jauh dari akar tanaman pisang, sedangkan menurut teori nematoda ektoparasit terletak didekat akar tanaman yang masih aktif tumbuh. Namun pada ekstraksi akar tanaman pisang kami mendapatkan paling banyak nematoda endoparasit karena akar yang kami ambil kebanyakan berwarna hitam dan menunjukkan bahwa akar tersebut telah busuk.

Jika dibandingkan dengan literatur, pada ekstrasi tanah hasil yang didapatkan lebih sedikit dari literatur, dengan perbandingan hasil kelompok kami dengan literatur pada tanah yaitu 1 : 3, sedangkan pada ekstrasi akar dengan perbandingan hasil kelompok kami dengan literatur yaitu 3 : 7 (Elysa 2010).

Tabel 1. Hasil Ekstrasi Nematoda Tanah

No

Asal Nematoda

Jumlah Nematoda

Jenis

Bentuk

1

2

3

Rata-rata

1

Pisang

1

2

3

2

Ditylenchus

Rotylenchus

G

G

2

Jagung

7

6

6

6,33

Dolichodorus

 

Dolichodorus

Rotylenchus

C

S

G

3

Kana

3

3

4

3,33

Haplolaimus

C

4

Talas

4

3

3

3.33

Xiphinema

 

Ditylenchus

S

G

 

 

2. Tabel data nematoda dari akar

No

Asal Nematoda

Jumlah Nematoda

Jenis

Bentuk

1

2

3

Rata-rata

1

Piasang

8

17

11

12

Trichodorus

Aphelenchoides

Rotylenchus

Hemicycliophora

C dan G

I

G

S dan I

2

Jagung

9

8

5

7,33

Dolichodorus

S

3

Kana

8

6

5

6,33

Tylenchorhynchus

 

Hemicycliophora

Ditylenchus

I

C

I

4

Talas

6

4

5

5

Trichodorus

 

Hoplolimus

C

G

 

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan praktikum ini diperoleh 18 nematoda pada tanah, 8 nematoda berstilet, dan 10 nematoda tidak berstilet. Sedangkan pada akar didapat nematoda sebanyak 51, 38 nematoda berstilet, dan 13 nematoda tidak berstilet. Berdasarkan hasil yang didapat, nematoda yang diambil dari dalam akar tanaman pisang lebih banyak dari pada nematoda yang diambil dari tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Epri. 2008. Nematode parasit. http://eprints.upnjatim.ac.id/3090/2/monogr_nem_parasit_edit_pdf. [Terhubung Berkala].  [19 September 2012]

 

 

Elysa.  2010.  Ekstraksi dan Identifikasi  nematode yang berasal dari  tanah dan akar tanaman.  http://elysafit08.student.ipb.ac.id/2010/06/20/ekstraksi-dan-identifikasi-nematoda-yang-berasal-dari-tanah-dan-akar-tanaman/.  [Terhubung berkala]. [18 September 2012]

Mulyadi. 2009. Nematologi Pertanian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Williams, T. D. dan J. Bridge. 1983.   Plant Pathologist’s Pocketbook Second Edition. Commonwealth Agriculture Bureaux. The Canbrian News Ltd, Queen Street, Aberystwyth, wales. Halaman 225-249.

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

Pengambilan sample tanah

 

 

Pengambilan sampel  akar

 

 

 

Menuangkan tanah kedalam wadah

 

 

Mengisi wadah dengan air

 

Meletakkan wadah berisi tanah diatas

Wadah berisi air

 

         Pencucian akar

 

 

 

Pemotongan akar                                       penyimpanan ekstraksi akar

 

 

 

 

 

 

Tempat menyimpan ekstraksi akar                                               Nematoda

 

 

 

 

 

 

 

 

101 Alasan Mengapa Saya Pakai Jilbab

November 15th, 2012

Sumber: buku “101 Alasan Mengapa Saya Pakai Jilbab”

1. Menjalankan syi’ar Islam.

2. Berniat untuk ibadah.

3. Menutup aurat terhadap yang bukan muhrim.

4. Karena saya ingin ta’at kepada Allah yang telah menciptakan saya, menyempurnakan kejadian, memberi rizki, melindungi, dan menolong saya.

5. Karena saya ingin ta’at kepada Rasul-Nya, pembimbing ummat dengan risalah beliau.

6. Untuk memperoleh Ridho Allah (InsyaAllah).

7. Merupakan wujud tanda bersyukur atas nikmat-Nya yang tiada putus.

8. Seluruh ulama sepakat bahwa hukum mengenakan jilbab itu wajib.

9. Agar kaum wanita menutup auratnya.

10. Bukan karena gaya-gayaan.

11. Bukan karena mengikut trend.

12. Bukan karena berlagak sok suci.

13. Lebih baik sok suci dari pada sok zholim ^_^ .

14. Tidak sekadar bermaksud agar berbeda dari yang lain.

15. Meninggikan derajat wanita dari belenggu kehinaan yang hanya menjadi objek nafsu semata.

16. Jilbab cocok untuk semua wanita yang mau menjaga dirinya dari objek nafsu semata.

17. Saya ingin menjadi wanita solihah.

18. Saya tengah berusaha mencapai derajat teqwa.

19. Jilbab adalah pakaian taqwa.

20. Jilbab adalah identitas wanita muslimah.

21. Diawali dengan mengenakan jilbab, saya ingin menapak jalan ke surga.

22. Menjauhkan diri dari azab panasnya api neraka di hari kemudian.

23. Istri-istri Rasulullah berbusana muslimah.

24. Para sahabiah (sahabat Rasulullah yang wanita) juga berbusana muslimah.

25. Mereka merupakan panutan seluruh muslimah, begitu juga saya.

26. Semoga Allah memberikan kepada kita balasan jannah yang sama seperti mereka.

27. Untuk meninggikan izzah Islam.

28. Untuk meninggikan izzah (kemuliaan) diri sebagai wanita (muslimah).

29. Jilbab lebih melindungi diri.

30. Membuat saya lebih merasa aman.

31. Menjaga diri dari gangguan lelaki usil.

32. Menjaga diri dari obyek pandangan lelaki yang hanya ingin ‘cuci mata’.

33. Menjaga diri dari objek syahwat lelaki.

34. Menjaga diri dari mata lelaki yang jelalatan.

35. Menjaga diri dari tangan-tangan usil yang ingin menjamah.

36. Menghin dari zina mata dan zina hati.

37. Merupakan pencegahan dari perbuatan zina itu sendiri.

38. Jilbab dapat menghindari saya dari sikap-sikap yang negatif.

39. Jilbab dapat menghapus keinginan-keinginan yang menyimpang.

40. Membuat saya lebih bersahaja.

41. Membuat saya lebih khusyu’.

42. Mejauhkan saya dari perbuatan dosa (insyaAllah).

43. Membuat saya malu bila berbuat dosa.

44. Mendekatkan saya pada Allah.

45. Mendekatkan saya pada Rasulullah.

46. Mendekatkan saya pada nabi-nabi-Nya.

47. Mendekatkan saya pada sesama muslim.

48. Mendekatkan saya pada ajaran Islam.

49. Membuat saya tetap ingin belajar tentang Islam.

50. Membuat saya selalu merasa haus akan ajaran Islam.

51. Membuat saya tetap ingin menjalankan ajaran Islam.

52. Ajaran Islam berlaku sepanjang masa, tidak ada yang kuno.

53. Berjilbab bukan sesuatu yang kuno.

54. Mengatakan berjilbab itu kuno berarti telah menggugat otoritas Allah.

55. Allah Yang Maha Mengetahui lebih tahu apa yang terbaik bagi ummat-Nya.

56. Berjilbab, berarti menandakan kemajuan penerapan ajaran Islam di masa kini.

57. Merupakan satu barometer telah terbentuknya suatu lingkungan yang Islami.

58. Membedakan diri dari penganut agama lain.

59. Memudahkan dalam pengidentifikasian sesama saudari seiman.

60. Memperkuat tali silaturahmi dan ukuwah sesama muslimah.

61. Menghilangkan keraguan saya bila ingin menyapa saudari muslimah.

62. Memudahkan menanamkan rasa sayang-menyayangi sesama saudara/saudari seiman.

63. Membuat saya lebih terlihat anggun.

64. Membuat saya terlihat menyenangkan.

65. Membuat saya lebih terlihat wanita.

66. Tidak terlihat seperti laki-laki.

67. Membuat saya selalu berada dalam lingkungan yang Islami.

68. Jilbab menjaga saya dari pergaulan yang salah.

69. Memudahkan saya, dengan ijin Allah, mengenal lelaki yang salih.

70. Wanita yang baik (salihah) dengan lelaki yang baik (salih) pula.

71. Mudah-mudahan saya diberi jodoh lelaki yang salih.

72. Jodoh merupakan urusan Allah.

73. Dengan keta’atan pada Allah, Allah akan memberikan kemudahan-Nya.

74. Memudahkan saya dalam beraktifitas..

75. Membuat lebih mudah bergerak.

76. Jilbab menjagaku sehingga tidak terlihat lekuk-lekuk tubuh

77. Sangat repot bila memakai pakaian wanita seperti trend saat ini (yang ketat).

78. Saya tidak suka memakai celana jeans.

79. Celana jeans yang ketat dapat menyebabkan kanker rahim karena suhu di sekitar rahim tidak beraturan.

80. Menghemat waktu dalam berpakaian.

81. Menghemat waktu dalam berhias.

82. Tidak perlu repot-repot selalu berusaha mengikuti trend mode yang berkembang.

83. Menghemat biaya untuk membeli pakaian yang sedang trend.

84. Menghemat biaya untuk membeli make up.

85. Melindungi kulit wajah dari make up yang dapat merusak kulit.

86. Melindungi kulit dari sengatan sinar matahari.

87. Meminimalkan penyakit kanker kulit.

88. Sengatan matahari dapat mengurangi kelembaban kulit sehingga kulit jadi kering.

89. Meminimalkan munculnya bintik-bintik hitam pada permukaan kulit akibat perubahan pigmen di usia tertenu.

90. Melindungi rambut dari debu-debu yang berterbangan.

91. Debu-debu itu dapat mengotori rambut dan menyebabkan rambut mudah rontok yang berakibat kebotakan.

92. Menuntun saya untuk hidup lebih sederhana.

93. Menghindari hidup yang konsumtif.

94. Membuat diri tidak silau dengan kemegahan dunia dan segala perhiasannya.

95. Membuat saya lebih memikirkan hal lain selain mode dan perhiasan.

96. Menempatkan wanita menjadi subjek dalam proses pembangunan ummat.

97. Lebih mudah dalam menabung.

98. Memiliki kesempatan untuk melakukan ibadah haji.

99. Memiliki kesempatan lebih banyak untuk berinfaq dan sedekah.

100. Itu berarti lebih banyak beramal untuk bekal di hari kemudian.

101. Membuat saya merasa menjadi wanita seutuhnya.

Hello world!

Juni 3rd, 2012

Welcome to Student.ipb.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!